Selasa, 04 Juni 2013

Kisahku Hampir Menjadi Korban Penipuan

Hidup ini, berpuluh puluh, bermilyar milyar, berjuta juta ujian menghampiri.
Sunatullah kehidupan.
Barang siapa tak menghendakinya, maka monggo, jangan jadi penghuni kehidupan.. Karena hidup dan ujian akan selalu berdampingan..

Saya akan bercerita tentang pertemuan saya dengan seorang wanita.. Kala itu, di depan sebuah mall, ia menghampiri saya. Wajahnya terlihat susah "mba, maaf kalau saya mengganggu, boleh saya minta bantuannya?" "ada apa ya?" tanya saya keheranan..

"Begini mba, saya di drop sahabat saya disini, tapi saya lupa, bahwa tas ransel saya yang berisi dompet ketinggalan disana, dan sekarang saya tak punya uang sepeserpun, jadi kalau mba berkenan, saya minta ongkos untuk pulang naik kereta ke Bogor"

Klise ya.. Dalam hati saya, duh modus penipuan apa pula ini. Tapi sungguh, penampilan si mba tak mencerminkan bahwa ia tengah berakting. Kerudungnya rapih. Wajahnya terlihat santun. Kalimatnya sungguh natural. Saya ditimpa keraguan. "perlu berapa ya?" tanya saya, akhirnya.

"Dua puluh ribu ada mba? Tapi saya bingung gimana ganti nya ya?" sahutnya kembali.

"gak papa ga usah diganti mba, tapi mohon maaf sekali, saya cuma bisa kasih setengahnya, karena setengahnya lagi untuk ongkos saya pulang" jawab saya melirik ke dalam kantong.

"ya gak papa deh mba, makasih banyak ya"

Dan pembicaraan kami melebar ke arah pekerjaan masing-masing.. Rupanya ia guru PNS di kota Serang. Lalu ia tiba tiba berkata "mba berminat jadi PNS, teman saya kepegawaian di Diknas, ia memang sedang membutuhkan banyak Guru PNS di DKI, kalau mba mau titip berkas ke saya ya.. Saya sudah bawa banyak orang mba, dan banyak yang lolos.. Cuma bayar 500 ribu aja sebagai uang jaminan, kalau gak tembus uangnya dibalikin mba" Jelasnya bersemangat. Saya pun diberinya no kontak si Bapak di Diknas, sebuat saja Bapak F.

Waktu itu saya tanya, "Diknas mana si bapak F?"
"Diknas Sunter mba" Jawabnya.

Singkat cerita, seorang teman berminat untuk menitip berkas ke bapak F, walau dengan tanda tanya "bener gak sih? Kok harus bayar duluan? Kan banyak tuh penipuan dengan modus serupa.."

Tapi jiwa Investigasi saya terkelitik. Kenapa tidak didatangi Bapak F ini kalau memang benar. Saya pun sms bapak F. Namun beliau mengatakan sebaiknya jangan ke kantor.

"Alasannya apa Pak?" jawab saya di sms.
"ya sudah prosedurnya bu, nanti kalau sudah ada panggilan baru ke kantor"

Nah loh, makin mencuatkan kecurigaan saya.. Penasaran, saya dan teman saya pun mengitari kawasan Sunter, bertanya kesana kesini mencari sebuah alamat Diknas Sunter. Dan kami mendapati arah yang berputar putar. Semua yang kami tanya berkernyit. "Gak ada Diknas Sunter mba, Diknas mah di bla bla bla" pokoknya gak ada di Sunter.

Tiga jam kami mencari sepotong alamat itu.

Dan akhirnya, kami sampai pada sebuah kesimpulan..

Wajah, penampilan seseorang, tidak menjadi jaminan akan isi hati nya. Jangan mudah percaya, terpengaruh, seperti kata sobat saya "Ini Jakarta Man" anything can happened.

Dan teman saya yang awalnya sangat bersemangat jadi lemas mendapat kenyataan ia tertipu. Namun justru menjadi lebih bersyukur bahwa uang tabungannya belum ia berikan pada si Bapak F.

Ternyata, masih saja ada manusia manusia yang mencari untung dari kelemahan orang lain. Masih ada saja, jiwa jiwa redup yang berusaha mengeruk untung dari modus penipuan.. Sungguh kasihan..

Semoga Bapak F dan kaki tangannya diberi hidayah oleh Allah Swt..

So sahabatku semua.. Waspadalah.. Semoga bisa menjadi Ibroh bagi diri ini dan semua.. 

Hidup ini memang bergelimang ujian ya sahabat.. Bapak F di Uji Allah dengan kesulitan uang, ia menggunakan kesehatan yang Allah beri, untuk menipu orang lain, begitu pula mereka yang membantu bapak F.

Semoga Allah beri kita keistiqomahan agar selalu dalam kebaikan, dan dikuatkan keimanan kita, kala ujian menerpa.
Amiin ya Rabb.

2 komentar:

  1. Kejadian yg mirip pernah dialami suami. Modus dompet dan tas hilang dan butuh ongkos utk pulang. Kemudian berlanjut menjadi pembicaraan yg mengarah ke janji-janji manis dgn menyetor sejumlah uang.

    Untungnya suami cuek dan gak menanggapi. Alih-alih memberi uang utk ongkos pulang, dia kasih nasi padang yg baru dibeli ke si bapak itu :D

    BalasHapus
  2. Baru saja kemarin, saat jemput ke sekolah, saya ketemu orang yg katanya sedang nyasar dan kehabisan ongkos. Cepat-cepat saya jawab, "Maaf Pak, ongkos saya juga ngepas." Sambil buru-buru menggandeng anak2 saya pergi. Memang belum tentu dia itu penipu. Orang itu berbicara dengan santun. Namun saya takut kalau dia penipu atau orang jahat yang bisa mengancam keselamatan saya dan anak-anak. Lebih baik saya menghindar

    BalasHapus